Home » Islamic Articles » Tauhid, Hak Allah atas HambaNya

Tauhid, Hak Allah atas HambaNya

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya.

Berikut ini, kami meringkas pembahasan tentang masalah tauhid dari Kitabut Tauhid oleh Syaikh Muhammad at Tamimi rahimahullah. Kami memberi tambahan beberapa ayat dan penjelasan, supaya lebih mudah difahami.

Tauhid: Hak Allah atas HambaNya

Manusia tidak diciptakan kecuali semata-mata untuk beribadah kepadaNya, sebagaimana firmanNya dalam ayat yang masyhur,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyat: 56)

Oleh karena itu, hendaknya kita benar-benar memperhatikan perkara ini dan kita jadikan setiap langkah kehidupan kita semata-mata untukNya. Tidak akan sedih dan gelisah orang yang menjalani kehidupan di atas tauhid, bahkah ia akan menjadi orang yang paling tenang dan bahagia karena yakin terhadap Rabbnya. Di hari kiamat kelak, Allah menjanjikan baginya surga dan keselamatan dari neraka. Pada suatu hari Sahabat Muadz bin Jabal radhiyallah ‘ahu pernah berada di atas kendaraan bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, lalu beliau bersabda kepadanya,
يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد؟ وما حق العباد على الله؟، قلتُ: الله ورسوله أعلم، قال: فإنَّ حقَّ الله على العباد أن يعبدوه ولا يُشركوا به شيئًا، وحق العباد على الله ألا يعذب مَن لا يشرك به شيئًا
Wahai muadz, apakah kamu tahu apa hak Allah atas hambaNya dan hak hamba atas Allah? Muadz menjawab, Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Lalu beliau bersabda, sesungguhnya hak Allah atas hambaNya adalah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab siapa-siapa yang tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun. [1]

Keutamaan Tauhid

Tauhid memiliki keutamaan yang begitu banyak, salah satunya adalah sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa orang yang bertauhid akan masuk surga dan terhindar dari kekekalan dalam api neraka. Salah satu keutamaan yang besar bagi orang yang bertauhid dan menghindari syirik adalah Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
قال الله تعالى: يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
Allah Ta’ala berfirman, wahai anak Adam, andaikata kamu mendatangiku dengan dosa sebesar bumi lalu bertemu denganKu tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula[2].

Masuk Surga Tanpa Hisab

Salah satu keutamaan orang yang bertauhid dengan sebenar-benarnya adalah ia akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagaimana yang tercantum di dalam hadist yang cukup panjang tentang para Nabi dan umatnya, lalu dikatakan kepada Nabi Muhammad, ”Ini adalah ummatmu, bersama mereka tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab tanpa adzab.” Lalu para sahabat pun saling berbicara tentang mereka, lalu Rasulullah bersabda, “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathoyyur[3] dan tidak pernah meminta lukanya ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun bertawakkal kepada tuhan mereka, kemudian Ukasyah bin Muhshon berdiri dan berkata : mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda : “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata : “mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka”, Rasul menjawab : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah”[4]

Takut dari Syirik

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa lawan dari tauhid adalah syirik. Tidak sempurna tauhid seorang hamba selama ia belum meninggalkan kesyirikan. Seseorang yang bertauhid adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan dan paling takut terjatuh kedalamnya. Bagaimana tidak takut?! sedangkan bapak para Nabi, Ibrahim ‘alaihissalam pun takut terjatuh dalam kesyirikan, lalu dia berdo’a,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
“..Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)
Kesyirikan adalah dosa yang paling besar. Kesyirikan adalah dosa yang tidak akan diampuni selama belum bertobat darinya. Pelaku kesyirikan diharamkan masuk surga dan kekal dalam api neraka. -naudzubillah min dzalik.

Dakwah kepada Tauhid

Dakwah para Rasul dari yang pertama, Nuh ‘alaihissallam, sampai yang terakhir, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, adalah sama yaitu menyeru kepada tauhid dan memperingatkan dari syirik. Tauhid adalah hal yang paling penting yang harus dijelaskan dan didakwahkan pada umat. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘ahnu berkata : ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda kepadanya : “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab ( Yahudi dan Nasrani) maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah – dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Allah”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu da’wahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah” [5]

Penjelasan Definisi Tauhid

Sebagian orang menyangka bahwa mentauhidkan Allah hanya sebatas mengakui keberadaanNya dan mengakuiNya sebagai pencipta dan pemberi rizki. Kaum musyrikin, kaum yang Rasulullah perangi pun mengakui bahwa Allah sebagai Rabb mereka, yang menciptakan dan member rizki kepada mereka, sebagaimana firmanNya
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS. az Zukhruf: 87)
Tidak, tidak hanya cukup dengan mengakuiNya sebagai pencipta, pemberi rizki dan pengatur semata melainkan harus diiringi dengan memurnikan ibadah kepadaNya semata. Termasuk dalam definisi ibadah adalah ketaatan, kecintaan dan lainnya. Allah berfirman,
اتخذوا أحبارهم ورهباهم أربابا من دون الله
Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (QS. Al Taubah: 31 ).
Diterangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang ahli kitab telah menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Padahal ahli kitab tidak rukuk atau sujud terhadap para pendeta dan alim, akan tetapi mereka mengikuti dan mentaati para pendeta dan ‘alim dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan.
Begitu pula masalah kecintaan, Allah berfirman,
ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله
Diantara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah. (QS. Al Baqarah: 165)

Murnikan Segala Ibadah untuk Allah Semata!

Ibadah, ragam dan bentuknya bermacam-macam, ada yang berupa iqtiqadiyah (keyakinan), lafdziyah (ucapan), badaniyah (dengan badan), serta maaliyah (dengan harta) seperti zakat [6]. Hendaknya kita murnikan segala ibadah tersebut kepada Allah semata. Allah berfirman,
قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين، لاشريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين
Katakanlah, bahwa sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanya semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri ( kepada Allah ). ( QS. Al An’am: 162-163)

Perhatikan Masalah Tauhid Meskipun seolah Masalah Sepele

Hendaknya kita benar-benar memperhatikan masalah tauhid dan kesyirikan. Mungkin sebagian orang menganggapnya masalah sepele, tetapi tidak demikian dengan syariat islam, masalah tauhid dan kesyirikan adalah masalah yang besar. Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :
لا تقولوا ما شاء الله وشاء فلان، ولكن قولوا ما شاء الله ثم شاء فلان
Janganlah kalian mengatakan : ‘atas kehendak Allah dan kehendak si fulan’, tapi katakanlah : ‘atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si fulan’.[7]

Semangat Nabi dalam Menjaga Tauhid dan Menutup Pintu Kesyirikan

Tauhid tidak akan sempurna dan murni, kecuali dengan menghindarkan diri dari setiap ucapan yang menjurus pada perbuatan yang berlebih-lebihan terhadap makhluk, karena dikhawatirkan akan menyeret ke dalam kemusyrikan. Abdullah bin Asy Syikhkhir radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika aku ikut pergi bersama dengan suatu delegasi Bani Amir untuk menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kami berkata :

أنت سيدنا، فقـال : السيد الله تبارك وتعالى، قلنا : وأفضلنا فضلا, وأعظمنا طولا، فقال :” قولوا بقولكم أو بعض قولكم ولا يستجرينكم الشيطان.
Engkau adalah sayyiduna ( tuan kami ), maka beliau bersabda :” Sayyid ( Tuan ) yang sebenarnya adalah Allah ”, kemudian kami berkata : ‘Engkau adalah yang paling utama dan paling agung kebaikannya di antara kita. Beliau bersabda : “Ucapkanlah semua atau sebagaian kata-kata yang wajar bagi kalian, dan janganlah kalian terseret oleh syetan” [9]

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 4 Rabi’ul Tsaani 1432 H (9 Maret 2011)
Abu Zakariya Sutrisno
Artikel:
http://www.thaybah.or.id / http://www.ukhuwahislamiah.com

Note:
[1]. HR Bukhari dan Muslim
[2]. HR Tirmidzi dan ia menghasankannya
[3]. Tathoyyur ialah : merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja
[4]. HR. Bukhori dan Muslim
[5]. HR. Bukhori dan Muslim
[6]. Lihat kitab Tath-hiiru al ‘I’tiqaad ‘an Adraani al Ilhaad karya syaikh Muhammad bin Isma’il al Amir rahimahullah wafat 1182 H(cet. Darul ibn Hazm hal. 51-52)
[7]. HR. Abu Daud dengan sanad yang baik
[8]. HR Bukhori dan Muslim
[9]. HR. Abu Daud dengan sanad yang shoheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s